AKPER PEMKOT TEGAL

Hidup adalah Proses Belajar dan Berjuang Tanpa Batas

Mengenal Lebih Jauh Penyakit Pika (Memakan Sesuatu Yang Bukan Makanan)

Posted by joe pada 05/01/2011

Sering kita melihat berita- berita di telivisi, seorang anak yang hobi makan batu/pasir, tanah, lem, rambut, bensin dan benda-benda lain yang selazimnya tidak boleh dimakan. Tentu kita yang melihat akan risih dan bertanya ada apa dengan anak tersebut ? apakah kelainan pola makan tersebut tergolong penyakit ataukah karena pola asuh orangtua yang salah, cenderung membiarkan anak memakan apa saja yang dia mau.

Dalam ilmu kejiwaan kelainan anak tersebut termasuk Penyakit Kejiwaan Pika (Pica)

Sebenarnya pika itu apa sih…?

Definisi Pica adalah sebuah istilah yang menunjuk pada keinginan kuat untuk memakan benda-benda yang bukan merupakan makanan. Benda-benda yang dimakan oleh pasien penderita pica mencakup lumpur, batu es, tanah liat, lem, pasir, kapur, lilin tawon lebah, permen karet, kanji laundry, dan rambut, kodok dll.

Pica merupakan keinginan kuat terhadap barang-barang yang bukan makanan atau menelan benda-bedan bukan makanan. Keinginan kuat yang ditemukan pada pasien yang didiagnosa dengan pica bisa terkait dengan keadaan kekurangan gizi, seperti anemia defisiensi zat besi; juga bisa terkait dengan kehamilan; atau dengan keterbelakangan mental atau penyakit jiwa. Kata pica berasal dari bahasa latin yang berarti sejenis burung Gagak (burung Magpie) yang memakan benda apa saja yang ditemuinya.

Buku penuntun profesional kesehatan jiwa, the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, edisi keempat, revisi naskah (2000), yang disingkat sebagai DSM-IV-TR, mengelompokkan pica dalam kategori “Gangguan Makan dan Pemberian Makan Bayi atau Anak Kecil.” Seorang pasien yang dapat didiagnosa dengan pica harus terus menerus memiliki keigninan kuat untuk memakan benda-benda bukan makanan selama sekurang-kurangnya satu bulan. Perilaku ini tidak pantas untuk tahap pertumbuhan anak. Lebih jauh, perilaku ini tidak boleh disetujui atau didorong oleh lingkungan sekitar anak.

Penyebab pica belum diketahui. Banyak hipotesis yang telah dibuat untuk menjelaskan perilaku ini. Hipotesis ini mencakup berbagai faktor seperti pengaruh kultural; status sosial-ekonomi rendah; penyakit defisiensi; dan gangguan psikologis.

Malnutrisi sering didiagnosa bersama dengan pica. Hubungan sebab-akibat belum ditemukan. Memakan tanah liat ditemukan terkait dengan kekurangan zat besi; akan tetapi, apakah absorpsi zat besi yang berkurang disebabkan oleh memakan tanah liat atau apakah kekurangan zat besi mendorong orang memakan tanah liat, masih belum diketahui. Beberapa kelompok kultural disebutkan mengajari anak-anaknya memakan tanah liat. Orang-orang yang menderita anemia defisiensi zat besi juga telah dilaporkan mengunyah batu es. Namun lagi-lagi mekanisme atau hubungan sebab akibatnya tidak diketahui.

Memakan cat paling umum diantara anak-anak yang berasal dari keluarga berstatus sosial-ekonomi rendah. Ini sering terkait dengan kurangnya pengawasan dari orang tua. Kelaparan juga bisa menimbulkan pica.

Pada orang-orang yang mengalami keterbelakangan mental, pica dianggap sebagai akibat dari ketidakmampuan untuk membedakan antara benda yang termasuk makanan dan yang bukan makanan. Akan tetapi, pendapat ini tidak didukung karena orang yang mengalami gangguan jiwa tidak sembarangan dalam memilih dan memakan benda-benda yang bukan makanan.

Pica, kekurangan zat besi, dan beberapa gangguan fisiologis lainnya pada manusia telah ditemukan terkait dengan aktivitas sistem dopamin yang menurun dalam otak. Dopamin merupakan sebuah neurotransmitter, atau zat kimia yang membantu menyalurkan transmisi impuls-impuls saraf dari satu sel saraf ke sel saraf lainnya. Hubungan ini telah menyebabkan beberapa peneliti berpendapat bahwa kemungkinan ada hubungan antara kadar dopamin yang rendah dalam otak dengan terjadinya pica. Akan tetapi, tidak ada gangguan biokimia bersangkutan yang telah diidentifikasi.

Faktor-faktor risiko untuk pica mencakup hal-hal berikut:
psikopatologi orang tua/anak
ketidakteraturan rumah tangga
keterkucilan dari lingkungan
kehamilan
epilepsi
kerusakan otak
keterbelakangan mental
gangguan-gangguan pertumbuhan yang pervasif

Bayi dan anak yang didiagnosa dengan pica umumnya memakan cat, plaster, benang, rambut, dan kain. Anak-anak yang lebih besar bisa memakan kotoran hewan, pasir, serangga, daun, batu kerikil dan puntung rokok. Remaja dan dewasa paling sering memakan lempung atau tanah.

Gejala-gejala pica berbeda-beda menurut benda yang dimakan.

Pasir atau tanah terkait dengan nyeri lambung dan perdarahan sesekali.
Mengunyah batu es bisa menyebabkan kenampakan yang abnormal pada gigi.
Memakan tanah liat bisa menyebabkan sembelit (konstipasi)
Menelan benda-benda logam bisa menyebabkan perforasi usus
Memakan benda kotoran sering mengarah pada penyakit infeksi seperti toksocariasis, toksoplasmosis, dan trichuriasis.
Memakan timah bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan keterbelakangan mental.

Pica lebih umum pada anak-anak dibanding dewasa. Anak-anak antara usia 2 sampai 6 tahun telah diketahui mengalami Pica. Bayi dan anak-anak sampai usia 18 bulan tidak dianggap mengalami Pica utamanya karena bayi selama usia ini akan sering memasukkan apa saja ke dalam mulutnya, dan kebiasaan ini adalah kebiasaan normal bagi bayi. Beberapa anak-anak yang mengalami Pica dikatakan karena meniru hewan piaraan keluarga (seperti anjing dan kucing) yang mereka lihat memakan benda tertentu. Anak-anak perlu diawasi dan setiap benda berbahaya harus dijauhkan dari jangkauan mereka.

Untuk didiagnosa mengalami Pica, seseorang harus memperlihatkan tanda-tanda selama sekurang-kurangnya satu bulan. Tidak ada tes medis khusus yang bisa menguatkan Pica. Cukup sering, Pica hanya terlihat dan diketahui ketika telah menghasilkan komplikasi yang menyebabkan seseorang mendapatkan perhatian medis. Tidak ada pencegahan khusus untuk Pica. Individu didorong untuk memakan makanan bergizi yang sesuai dan mengikuti panduan-panduan kesehatan yang diperlukan untuk kesehatan yang optimum.

3 Tanggapan to “Mengenal Lebih Jauh Penyakit Pika (Memakan Sesuatu Yang Bukan Makanan)”

  1. terimakasih atas informasinya.

  2. karina yusufina said

    saya sangat suka mencicipi sabun, shampoo, mknanan kadaluarsa, bahkan lem kayu. apkh saya termasuk pengidap pika?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: